27 September 2026
Doomscrolling dan Brain Rot: Kenapa Susah Berhenti Scroll
Niatnya cuma lihat satu video. Tahu-tahu sudah tengah malam, jempol masih menggeser layar, dan kepala terasa penuh tapi kosong di saat yang sama. Dua istilah internet menggambarkan pengalaman ini dengan pas: doomscrolling dan brain rot.
"Brain rot" bahkan dinobatkan sebagai Word of the Year 2024 oleh Oxford University Press — tanda betapa banyak orang merasakan hal yang sama.
Apa itu doomscrolling dan brain rot?
Doomscrolling adalah kebiasaan terus menggulir konten, sering kali berita buruk atau konten yang memicu cemas, meskipun membuat perasaan makin tidak enak. Penelitian Sharma, Lee, dan Johnson (2022) menemukan bahwa kebiasaan doomscrolling berkaitan dengan kesejahteraan mental yang lebih rendah.
Brain rot dipakai Oxford untuk menggambarkan menurunnya kondisi mental atau intelektual seseorang akibat terlalu banyak mengonsumsi konten yang dangkal atau tidak menantang. Istilah ini bukan diagnosis medis, tapi menggambarkan rasa "otak berkabut" setelah berjam-jam scroll.
Kenapa susah berhenti scroll
Aplikasi media sosial dirancang tanpa titik akhir: selalu ada konten berikutnya. Kita juga tidak tahu kapan konten yang menarik akan muncul, sehingga otak terus mencari "satu lagi". Ditambah lagi, saat sedang lelah atau cemas, scroll terasa seperti istirahat — padahal jarang benar-benar membuat segar.
Bagi banyak orang, scroll juga jadi pintu masuk perbandingan sosial: melihat liburan, pencapaian, dan tubuh orang lain, lalu merasa hidup sendiri kurang.
Tanda kamu sedang terjebak
- Membuka aplikasi tanpa sadar. Jempolmu sudah di aplikasi sebelum kamu memutuskan untuk membukanya.
- Mood lebih buruk setelah scroll. Membuka dalam keadaan biasa, menutup dalam keadaan lebih cemas atau lebih kecil.
- Sulit fokus pada hal yang lebih panjang. Membaca buku atau menonton film utuh terasa berat.
- Tidur tertunda karena layar. "Lima menit lagi" berubah jadi satu jam.
Cara mengurangi doomscrolling
1. Batasi, tidak harus berhenti total. Studi Hunt dan rekan-rekannya (2018) menemukan mahasiswa yang membatasi media sosial sekitar 30 menit per hari selama tiga minggu merasa lebih jarang kesepian dan mengalami lebih sedikit gejala depresi.
2. Tambahkan jeda sebelum membuka aplikasi. Pindahkan aplikasi dari layar utama atau pasang batas waktu. Satu detik jeda sudah cukup untuk bertanya, "aku buka ini untuk apa?"
3. Tentukan titik akhir sendiri. Karena aplikasinya tidak punya akhir, kamu yang membuatnya: satu video, satu utas, lalu tutup.
4. Ganti, jangan cuma hapus. Siapkan aktivitas pengganti yang singkat untuk momen bosan: jalan sebentar, latihan napas, atau menulis dua kalimat tentang harimu.
Ganti scroll dengan refleksi singkat
rumputhijau menawarkan kebiasaan pengganti yang sama singkatnya dengan membuka media sosial: check-in dua menit untuk menuliskan perasaanmu, dan Latihan Reflektif untuk saat kamu baru selesai scroll dan merasa kecil dibanding orang lain.
Referensi
- Oxford University Press. (2024). Oxford Word of the Year 2024: Brain rot.
- Sharma, B., Lee, S. S., & Johnson, B. K. (2022). The dark at the end of the tunnel: Doomscrolling on social media newsfeeds. Technology, Mind, and Behavior, 3(1).
- Hunt, M. G., Marx, R., Lipson, C., & Young, J. (2018). No more FOMO: Limiting social media decreases loneliness and depression. Journal of Social and Clinical Psychology, 37(10), 751–768.