29 Agustus 2026

Kenapa Karier Teman yang Melejit Bikin Kamu Kesal, Padahal Kamu Juga Kerja Keras?

Kamu dan seorang teman mulai karier di titik yang hampir sama. Sama-sama lembur, sama-sama belajar hal baru di luar jam kerja, sama-sama merasa sedang "membangun fondasi". Lalu suatu hari dia diangkat jadi manajer, pindah ke perusahaan impian, atau proyeknya jadi sorotan atasan — sementara kamu masih di posisi yang sama.

Yang aneh, reaksi pertamamu bukan cuma senang untuk dia. Ada sesuatu yang mengganjal — rasa kesal yang susah dijelaskan, apalagi diucapkan, karena secara sadar kamu tahu kamu juga sudah kerja keras. Kok bisa perasaan ini muncul justru ke orang yang paling dekat dan paling pantas untuk didukung?

Kita paling iri ke orang yang paling mirip kita

Ini bukan kebetulan. Menurut riset Tanya Menon dan Leigh Thompson yang dipublikasikan di Harvard Business Review, kita cenderung iri paling intens justru pada orang-orang yang dekat dengan kita — bukan selebriti atau CEO perusahaan lain, tapi teman kuliah, rekan setim, atau kolega senasib. Alasannya sederhana: pencapaian mereka terasa berada dalam jangkauan kita. Kalau dia bisa, kenapa aku tidak?

Ini sejalan dengan teori dasar yang sudah dikenal sejak lama dalam psikologi sosial: manusia menilai diri sendiri dengan membandingkan diri ke orang lain yang dianggap setara — bukan ke orang yang jelas jauh lebih unggul atau jauh lebih tertinggal. Semakin mirip situasi awal seseorang dengan kita, semakin tajam perbandingannya terasa saat jalurnya berbeda.

Kerja keras tidak selalu terlihat dari luar — punya orang lain juga

Yang sering luput: kita membandingkan proses penuh kita sendiri (termasuk semua momen ragu dan gagalnya) dengan hasil akhir orang lain yang sudah "jadi". Penelitian dari Harvard Business School oleh Alison Wood Brooks dan rekan-rekannya menemukan sesuatu yang menarik soal ini: orang yang sukses tapi juga terbuka soal kegagalan dan perjuangan mereka ternyata memicu rasa iri yang jauh lebih kecil dari kolega di sekitarnya, dibanding orang yang hanya menampilkan hasil akhirnya saja.

Artinya, sebagian besar rasa kesal itu bukan murni soal "dia lebih hebat" — tapi soal kita tidak melihat proses yang sebenarnya sama beratnya dengan proses kita. Rumput yang hijau itu, lagi-lagi, hasil dari yang tidak kelihatan.

Dua jenis iri, dan yang menentukan bukan situasinya — tapi arahnya

Niels van de Ven, salah satu peneliti paling dikutip soal psikologi iri hati, membedakan dua bentuk envy dalam tulisannya di jurnal Social and Personality Psychology Compass. Benign envy muncul ketika kita menganggap keberhasilan orang lain sebagai sesuatu yang pantas mereka dapatkan, dan kita masih merasa punya kendali untuk mengejar hal serupa — dorongan ini justru memotivasi kita untuk berusaha lebih baik.

Malicious envy muncul saat kita menilai keberhasilan itu tidak adil, atau saat kita merasa tidak punya kendali atas situasi kita sendiri — dan dorongannya bukan untuk maju, tapi untuk menjatuhkan atau menjauhi orang yang kita "iri"-kan itu.

Poin pentingnya: dua orang bisa punya situasi yang persis sama, tapi berakhir di dua jenis iri yang berbeda, tergantung bagaimana mereka memaknai kesuksesan orang lain itu dalam kepala mereka sendiri.

Kalau dibiarkan, ini bukan cuma soal perasaan

Menon dan Thompson mencatat bahwa envy yang tidak dikelola bisa merusak hubungan kerja dan menggerus rasa percaya diri sendiri — bukan cuma bikin hari buruk, tapi bisa membuat seseorang diam-diam menyabotase performanya sendiri karena terlalu terpaku pada kesuksesan orang lain.

Riset yang lebih baru dari jurnal Behavioral Sciences (Su & Chen, 2023) menemukan pola yang lebih konkret di tempat kerja: karyawan yang merasakan malicious envy cenderung menyembunyikan informasi atau pengetahuan dari rekan kerja yang mereka "iri"-kan — perilaku kecil yang, kalau terjadi di banyak orang sekaligus, pelan-pelan merusak kerja sama tim secara keseluruhan.

Yang bisa kamu lakukan saat perasaan itu muncul

  • Pisahkan perasaannya dari orangnya. Rasa kesal itu bukan tentang temanmu tidak pantas sukses — itu tentang bagian dari dirimu yang merasa tertinggal. Menyadari ini membuat perasaan itu lebih mudah diarahkan, bukan ditekan atau dilampiaskan ke hubungan pertemanan.
  • Cari tahu proses yang tidak terlihat. Tanya langsung ke temanmu soal perjalanannya, bukan cuma lihat hasilnya. Biasanya ada bagian yang jauh lebih berat dari yang terlihat di permukaan — dan itu bisa mengubah "kok gampang banget buat dia" jadi gambaran yang lebih adil.
  • Tanyakan: ini dorongan atau beban? Kalau rasa iri ini bikin kamu ingin belajar hal yang sama, ikuti arahnya. Kalau cuma bikin kamu ingin menjauh atau diam-diam berharap dia gagal, itu sinyal untuk berhenti sejenak, bukan sinyal soal siapa kamu sebagai orang.
  • Tulis sebelum bereaksi. Kirim ucapan selamat dulu kalau perlu, tapi tulis juga apa yang sebenarnya kamu rasakan di tempat yang aman. Perasaan yang hanya berputar di kepala biasanya terasa jauh lebih besar daripada saat sudah dituliskan dengan jujur.

Kerja kerasmu tidak hilang begitu saja

Karier bukan perlombaan dengan satu jalur yang sama untuk semua orang — timing, kesempatan, dan faktor yang di luar kendali kita ikut berperan, bukan cuma seberapa keras seseorang bekerja. Itu bukan alasan untuk berhenti berusaha, tapi alasan untuk berhenti menjadikan pencapaian orang lain sebagai satu-satunya ukuran soal seberapa jauh kamu sudah melangkah.

rumputhijau dibuat untuk momen-momen seperti ini: check-in singkat setiap pagi dan malam, dengan AI yang merespons personal setiap kali kamu menulis — supaya perasaan seperti ini punya tempat untuk diproses, bukan cuma dipendam.

Referensi