7 September 2026
Kenapa Orang Berubah Begitu Punya Kekuasaan? Mengenal Power Syndrome
Pernah punya atasan, senior, atau bahkan teman yang dulu asyik diajak diskusi, tapi begitu naik jabatan jadi susah ditegur, gampang tersinggung, dan merasa pendapatnya paling benar? Bukan cuma perasaanmu — ada nama untuk pola ini, dan ilmuwan sudah menelitinya cukup lama: power syndrome, perubahan perilaku yang muncul justru setelah seseorang mendapat kekuasaan, bukan sebelumnya.
Yang menarik, orang-orang ini biasanya naik ke posisi itu karena sifat yang baik — mudah diajak kerja sama, peka terhadap orang lain, terbuka pada masukan. Pertanyaannya: kenapa justru sifat-sifat itu yang hilang lebih dulu setelah kekuasaan didapat?
"Power Paradox" — kekuasaan didapat dengan empati, lalu menghilangkannya
Dacher Keltner, psikolog dari University of California, Berkeley, menyebut ini the power paradox: kekuasaan diraih lewat kecerdasan sosial, tanggung jawab, dan kemampuan bekerja sama dengan orang lain — tapi begitu seseorang berkuasa, ia justru cenderung menjadi lebih impulsif dan makin buruk dalam memahami sudut pandang orang lain.
Penelitiannya menemukan pemimpin yang berkuasa lebih sering mengandalkan stereotip saat menilai orang, membuat penalaran yang kurang matang, lebih sering memotong pembicaraan orang lain, dan menunjukkan perilaku yang jauh lebih rendah empatinya dibanding sebelum berkuasa. Keltner bahkan menyamakan pola ini dengan perilaku pasien yang mengalami kerusakan pada lobus frontal otak — bagian yang berperan besar dalam pengendalian diri dan penilaian sosial.
Kalau sudah parah, ini yang disebut "hubris syndrome"
David Owen — mantan Menteri Luar Negeri Inggris yang juga berlatar belakang neurologi — meneliti pola serupa pada presiden Amerika Serikat dan perdana menteri Inggris selama seabad terakhir, dan menamainya hubris syndrome. Ia menegaskan ini bukan gangguan kepribadian bawaan, melainkan kondisi yang didapat — muncul setelah seseorang memegang kekuasaan besar dalam waktu lama dengan sedikit kontrol dari pihak luar.
Ciri-cirinya antara lain: memandang dunia sebagai panggung untuk memuliakan diri sendiri, terlalu fokus pada citra dibanding substansi, percaya diri berlebihan sampai mengabaikan masukan orang lain, merasa keputusannya pasti akan dibenarkan sejarah, dan mulai kehilangan kontak dengan realita di lapangan. Bedanya dengan gangguan kepribadian biasa: hubris syndrome cenderung mereda ketika kekuasaan itu hilang — artinya ini memang soal posisi, bukan semata watak dasar orang tersebut.
Kenapa ini bisa terjadi ke siapa saja, bukan cuma "orang jahat"
Bagian yang paling penting dari riset ini: pola ini tidak butuh niat buruk untuk muncul. Kekuasaan membuat sedikit demi sedikit umpan balik jujur berkurang — orang lain jadi lebih hati-hati mengkritik, lebih sering menyetujui, dan lebih jarang menyampaikan kabar buruk. Tanpa disadari, orang yang berkuasa mulai kehilangan cermin yang biasa mengoreksi perilakunya, dan lama-lama sudut pandangnya sendiri terasa sebagai satu-satunya yang benar.
Semakin sedikit kontrol atau pengawasan dari luar, semakin besar ruang bagi pola ini untuk tumbuh. Ini yang membuat power syndrome sering muncul justru di posisi yang paling sedikit ditantang — bukan karena orangnya berbeda, tapi karena lingkungannya berhenti memberi masukan yang jujur.
Tanda-tanda yang perlu dikenali — pada orang lain, atau diri sendiri
- Makin jarang meminta pendapat, makin sering memerintah. Diskusi dua arah berubah jadi instruksi satu arah, dan masukan terasa seperti gangguan, bukan bahan pertimbangan.
- Kritik terasa seperti serangan pribadi. Reaksi terhadap masukan yang berbeda jadi jauh lebih defensif dibanding dulu, bahkan untuk hal-hal kecil.
- Merasa keputusan sendiri jarang perlu dipertanyakan. Muncul keyakinan bahwa penilaian pribadi sudah pasti benar, tanpa perlu banyak verifikasi dari orang lain.
- Orang di sekitar mulai lebih banyak diam. Kalau makin sedikit orang yang berani menyampaikan kabar buruk atau berbeda pendapat, itu tanda lingkaran umpan balik sudah mulai tertutup.
Yang bisa membantu menjaga diri dari pola ini
Kabar baiknya, karena ini soal kondisi dan lingkungan — bukan sekadar watak — pola ini bisa dijaga sejak awal. Keltner sendiri menekankan pentingnya terus mempraktikkan sifat-sifat yang dulu membawa seseorang naik ke posisinya: tetap bertanya, tetap mendengarkan sebelum memutuskan, dan sengaja mencari orang yang berani berbeda pendapat alih-alih hanya mengelilingi diri dengan orang yang selalu setuju.
Refleksi rutin juga membantu menangkap pergeseran ini lebih awal — sebelum jadi kebiasaan yang mengakar. Menuliskan bagaimana kamu merespons masukan atau kritik hari ini, dan membandingkannya dengan caramu merespons dulu, adalah salah satu cara paling sederhana untuk melihat apakah pola ini sedang mulai muncul pada dirimu sendiri.
rumputhijau dibuat untuk kebiasaan reflektif seperti ini: check-in singkat setiap pagi dan malam, dengan AI yang merespons personal setiap kali kamu menulis — supaya perubahan kecil dalam caramu berpikir dan merespons orang lain tidak luput dari perhatianmu sendiri.
Referensi
- Keltner, D. (2016). The Power Paradox. Greater Good Magazine, UC Berkeley.
- Owen, D., & Davidson, J. (2009). Hubris syndrome: An acquired personality disorder? A study of US Presidents and UK Prime Ministers over the last 100 years. Brain, 132(5), 1396–1406.
- Sadler-Smith, E., Akstinaite, V., Robinson, G., & Wray, T. (2017). Hubristic leadership: A review. Leadership, 13(5), 525–548.