27 September 2026

Merasa Jadi Figuran di Hidup Sendiri? Ini Kata Psikologi

Di media sosial, semua orang terlihat seperti tokoh utama: perjalanan ke luar negeri, karier yang melesat, hubungan yang manis. Sementara kamu merasa seperti figuran di hidup sendiri — lewat di latar belakang cerita orang lain, tanpa alur yang jelas. Tren "main character energy" justru bisa membuat perasaan ini makin kuat.

Kenapa kita merasa jadi figuran

Perasaan ini lahir dari perbandingan. Leon Festinger (1954) menjelaskan bahwa kita menilai diri dengan membandingkan diri dengan orang lain. Masalahnya, kita membandingkan "cuplikan terbaik" orang lain dengan keseluruhan hidup kita — termasuk hari-hari biasa yang tidak pernah diunggah siapa pun.

Hari biasa terasa seperti hidup yang tidak bergerak, padahal kebanyakan hidup semua orang memang terdiri dari hari biasa.

Orang lain tidak memperhatikan kita sebanyak yang kita kira

Uniknya, di saat merasa jadi figuran, kita juga sering merasa diamati berlebihan. Penelitian Gilovich, Medvec, dan Savitsky (2000) tentang spotlight effect meminta mahasiswa memakai kaos yang memalukan ke ruang kelas. Mereka memperkirakan sekitar separuh orang di ruangan akan menyadarinya, padahal yang benar-benar memperhatikan jauh lebih sedikit.

Artinya, semua orang sibuk menjadi tokoh utama di cerita mereka sendiri. Kamu bukan figuran yang tidak dianggap — kamu adalah tokoh utama yang sedang terlalu sibuk menonton cerita orang lain.

Hidupmu adalah cerita yang sedang kamu tulis

Psikolog Dan McAdams dan Kate McLean (2013) menjelaskan konsep narrative identity: cara kita menceritakan hidup kita sendiri membentuk siapa diri kita. Orang yang mampu melihat makna dan pertumbuhan dalam pengalaman sulit cenderung punya kesejahteraan yang lebih baik.

Kabar baiknya, cerita ini bisa ditulis ulang. Bukan dengan mengubah kejadiannya, tapi dengan mengubah cara kamu memaknainya.

Cara berhenti merasa jadi figuran

  • Catat hal kecil yang terjadi setiap hari. Obrolan yang menyenangkan, pekerjaan yang selesai, keputusan yang kamu ambil. Hidup yang "biasa" ternyata penuh adegan.
  • Lihat perkembangan dari waktu ke waktu. Bandingkan dirimu dengan setahun lalu, bukan dengan orang lain hari ini.
  • Kurangi menonton, tambah menjalani. Setiap jam yang dipakai menonton hidup orang lain adalah jam yang tidak dipakai untuk menulis ceritamu sendiri.
  • Tentukan satu hal yang penting buatmu minggu ini. Tokoh utama punya tujuan — sekecil apa pun.

Tulis ceritamu sendiri, setiap hari

Check-in harian di rumputhijau adalah cara sederhana untuk mencatat adegan-adegan kecil dalam hidupmu, dan Laporan Makna mingguan merangkumnya menjadi cerita yang bisa kamu lihat — bukti bahwa kamu sedang menjalani hidupmu sendiri, bukan sekadar menonton hidup orang lain.

Referensi

  • Festinger, L. (1954). A theory of social comparison processes. Human Relations, 7(2), 117–140.
  • Gilovich, T., Medvec, V. H., & Savitsky, K. (2000). The spotlight effect in social judgment: An egocentric bias in estimates of the salience of one's own actions and appearance. Journal of Personality and Social Psychology, 78(2), 211–222.
  • McAdams, D. P., & McLean, K. C. (2013). Narrative identity. Current Directions in Psychological Science, 22(3), 233–238.